Selasa, 13 Januari 2009

Pengertian Amal dan Ibadah

Kata amal artinya pekerjaan. Dalam bahasa Arab kata amal dipakai untuk semua bentuk pekerjaan. Tidak seperti anggapan sebagian masyarakat Muslim, yang mengembalikan kata amal dengan kata ibadah dan memahaminya sebatas kegiatan ritual seperti pergi ke masjid, membaca Alquran, shalat, puasa, haji, zakat, sedekah, dan sebagainya.
Dalam Alquran, kata amal terbagi kepada 'amalus-shalih (pekerjaan baik) dan 'amalun ghairus-shalih (pekerjaan yang tidak baik). 'Amalun ghairus-shalih disebut pula dengan 'amalus-sayyi-ah (amal salah), termasuk pula ke dalam kategori ini 'amalus-syaithan (pekerjaan setan) dan 'amalus-mufsidin (pekerjaan pelaku kebinasaan). Umat Islam diperintah melakukan 'amalus-shalih dan wajib menjauhi 'amalus-sayyi-ah.
Ada firman Allah SWT, ''Siapa yang mengerjakan kebaikan dia mendapat pahala dari perbuatannya itu dan siapa yang mengerjakan kejahatan maka orang yang melakukan kejahatan itu tidak dibalas kecuali menurut apa yang dikerjakannya.'' (Al-Qasas: 84).
Adapun kata ibadah artinya penyembahan atau pengabdian. Firman Allah SWT, ''Wahai sekalian manusia! Mengabdilah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan menciptakan orang-orang sebelummu, mudah-mudahan kamu bertakwa.'' (Al-Baqarah: 21). Ayat ini sekaligus menjelaskan bahwa yang namanya pengabdian dilakukan makhluk kepada khaliknya. Sesuai dengan bacaan shalat dalam surat Al-Fatihah ayat 5, ''Kepada-Mu saja (ya Allah) kami mengabdi dan kepada-Mu saja kami minta pertolongan.'' Pemahaman seperti ini menolak adanya istilah pengabdian kepada selain Allah SWT.
Memelihara dan memajukan bangsa dan tanah air, memakmurkan masyarakat, serta berbuat baik terhadap orang tua dan lain-lain, adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT. Lalu apakah ibadah itu? Berdasarkan beberapa ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW, sekelompok ulama mendefinisikan ibadah sebagai berikut, ''Ibadah ialah usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah. Ibadah itu ada yang umum dan ada yang khusus. Ibadah umum adalah segala amal yang diizinkan Allah dan yang khusus ialah apa yang sudah ditetapkan perincian-perinciannya, tingkat, dan cara-caranya yang tertentu.''
Jadi, ibadah meliputi ibadah mahdhah (wajib) dan semua pekerjaan manusia yang dibenarkan Allah SWT atas niat karena Allah untuk mencari ridha Allah serta dengan mengindahkan segala ketentuan-Nya di sepanjang pelaksanaan pekerjaan itu. Sehingga, sinkronlah dengan firman Allah SWT dalam surat Az-Zariyaat ayat 56, ''Dan tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, kecuali untuk semata-mata mengabdi kepada-Ku.'' Sejalan pula dengan pengakuan Muslim ketika membaca doa iftitah dalam shalat, sesuai dengan surat Al-An'am ayat 162, ''Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah pengatur alam semesta.'' Wallahu a'lam. (Nasril Zainun)

sumber : republika



PENTINGNYA IBADAH

Wahai manusia beribadahlah untuk Rabbmu ysng menciptakanmu dsn orang-orang sebelummu agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan (untuk tempat tinggal), langit sebagai atap dan menurunkan air hujan dari langit kemudian dengan air iru Dia keluarkan buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah kamu menjadikan tandingan-tandingan (sekutu-sekutu) bagi Allah padahal kamu mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 21-22)
Dalam ayat di atas dijelaskan kalau manusia diciptakan Allah dengan tujuan agar manusia beribadah pada-Nya. Ada sebuah pertanyaan yang ada dalam benak kita, “kenapa kita harus beribadah kepada Allah?” Jawabnya ; karena Allah yang menciptakan kita dan memberi kita tempat tinggal dibumi ini dan memberikan rizki dari buah-buahan untuk menjamin kesejahteraah hidup kita dan pastinya kita semua ini menjadi orang-orang yang bertakwa. Kemudian ada pertanyaan lagi yang terbesit dipikiran kita, “kenapa kita harus bertakwa kepada Allah?” jawabnya yaitu supaya kita menjadi manusia yang mulia.
Syaikh Ibnu Taimiyah rahimatulullah mengatakan
“ ibadah adalah kata benda jamak yang menyatakan apa saja yang dicintai dan diridhoi Allah, mencakup perkataan dan perbuatan, baik yang lahir (tampak) maupun yang bathin (tak tampak).”
Berdasarkan pernyataan di atas dapat kita ketahui bahwa perkataan dan perbuatan apa saja yang dapat mengakibatkan cinta dan ridho Allah dapat disebut ibadah. Sekarang sudah jelas bahwa ibadah yang ditujukan hanya karena cinta dan ridho Allah semata, baik itu perkataan dan perbuatan yang tampak maupun tidak itu disebut ibadah. Untuk itu semua amalan apapun yang kita kerjakan, perembahkanlah hanya karena Allah semata karena hal itu akan dinilai sebagai ibadah dan hasilnya akan kita petik dihari akhir nanti.
Perbuatan dan perkataan yang bernilai ibadah hanya dapat kita ketahui dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, serta praktek para sahabat dan para shalih-shalih yang setia mengikuti dan mengamalkan sunnah Rasulullah . mengapa demikian? Karena Rasulullah SAW adalah manusia yang dipilih oleh Allah untuk menerima wahyu yang berisalah dari Allah dan tahu persis perkataan dan perbuatan, yang dikenal dengan sunnah Rasul. Allah berfirman :
“ Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu bagi yang mengharapkan (rahmat) hari akhir dan dia banyak menyebut nama Allah”.(Q.S. Al-Ahzab :21)
“Dan apa saja yang datang dari Rasul untuk kamu maka ambillah dan apa saja yang dilarang (untuk) kamu maka jauhilah(Q.S. Al-Hasr : 7)
Kaum Muhajirin dan Anshar adalah orang yang bertemu langsung dengan Rasulullah SAW sehingga tahu persis tentang perkataan dan perbuatan Rasulullah. Demikian pula, orang-orang yang bertemu langsung dengan para sahabat, yang dengan setia mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para shalih yaitu orang-orang yang tahu betul bagaimana para sahabat mempraktekkan sunnah Raulullah pada zamannya, sehingga Allah Ta’ala ridho terhadapnya. Sebagaimana firman Allah :
“ orang-orang terdahulu generasi awal (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada Allah maka Allah sediakan bagi meraka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”(Q.S. At-Taubah : 100)
Dalam Alqur’an surat an-Naba’ 31-37 allah melukiskan surga dengan gambaran yang sangat dekat dengan nikmat-nikmat dalam keseharian kita. “ sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. Yaitu kebun-kebun dan buah anggur dan gadis-gadis sebaya dan gelas-gelas yang penuh (dengan minuman). Dialamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-siadan tidak pula dusta, sebagai balasan dari Tuhanmu dan pemberian yang cukup banyak, tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya.”
Sekarang bagaimana dengan neraka yang kabarnya sangat menakutkan !!!
Mendengar kata neraka, pasti yang ada dalam benak kita pasti kengerian-kengerian yang ada di dalamnya. Neraka yang penuh denga api yang bergejolak yang bahan bakarnya dari manusia dan batu. Meraung dengan mengerikan, marah pada manusia-manusia yang malah pada ngantri untuk memasukinya lantaran mereka adalah orang-orang yang melampaui batas dan orang-orang kafir dan meraka tinggal didalamnya berabad-abad lamanya. Coba bayangkan bagaimana panasnya dineraka? Di dunia saja bila kita berjalan ditengah terik matahari, yang pastinya membuat kita kepanasan dan gerah. Atau bisa kita coba, dengan merasakan panasnya korek api yang bila kita dekatkan diujung jari kita, bagaimanakah rasanya? Itu baru panasnya dunia, belum panasnya neraka.
Ada banyak alasan yang membuat kita mulai sekarang harus bersungguh-sungguh dalam setiap ibadah kita. Alasan pertama : Ibadah merupakan kesempatan besar untuk meraih cintaNya. Bukankah bila kita mendekat sejengkal maka Ia akan mendekat sehasta. Maka yakinlah bahwa Allah sungguh-sungguh mencintai kita.
Kedua : harus tahu umur kita sampai mana? Bisa jadi besok, hari ini dan bahkan detik ini juga. Dan kita juga tidak tahu kapan umur kita akan berhenti. Maka dari itu kita optimalkan hari-hari kita dengan beribadah kepada Allah SWT. Jadikanlah hari esok lebih baik dari sekarang. Supaya kita termasuk orang-orang yang beruntung.
Ketiga : sekarang kamu hitung berat dosa kamu dengan pahala kamu. Kira-kira berat mana? Dosa ataukah pahala kamu? Dan kalau kita tahu kalau kita banyak dosanya sementara pahala kita juga sedikit. Kalau kita sudah tahu bahwa dosa kita banyak maka kita harus tahu bagaimana menambah porsi pahala kita yaitu dengan beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh sehingga Allah mengampuni dosa kita.dan kita akan mendapat pahala dari Allah SWT.
Keempat mari kita beli tiket yang sangat diidam-idamkan semua orang yaitu tiket surga. Bagaimanakah kita mendapatkannya? Tidak semua orang itu akan dapat memiliki tiket tersebut karena hanya orang yang bertakwa dan berimanlah yang akan mendapatkannya. Sekarang tanyakan kepada diri kamu sendiri apakah kamu sudah menjalankan kwajibannya? Seperti Sholat Fardhu, puasa romadhon, berbakti kepada orang tua ataukah kita sudah beramal shalih lainnya? Dan apakah kita sudah meningalkan larangannya?????hanya kamu senditi yang bisa menjawabnya…..



PENTINGNYA NIAT DALAM IBADAH


Diterimanya ibadah kita oleh Allah masih sangat tergantung pada niat kita, yakini untuk apa kita beribadah, apakah karena ingin mendapatkan cintanya Allah dan ridhonya ataukah kita ingin mendapatkan keuntungan duniawi semata. Hal ini dapat kita ketahui dari hadits berikut ;
“Umar bin Khatab berkata ; “saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda ; Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat. Dan tiap-tiap urusan tergantung untuk apa diniatkan. Oleh karena itu, barang siapa berhijrah karena Allah maka hijrahnya akan diterima oleh Allah dan Rasulnya. Dan barangsiapa berhijrah karena menghendaki keuntungan duniawi atau karena ada perempuan yang ingin dinikahi maka hijrahnya akan mendapatkan apa-apa yang diniatkan.”(HR. Bukhori-Muslim).
Walaupun hijrah adalah perbuatan yang bernilai ibadah tetapi apabila dilakukan dengan niat bukan untuk mendapakan cinta dan ridho dari Allah semata maka hijrah tersebut tidak akan diterima oleh Allah SWT. Demikian pula shalat kita yang dilakukan karena ingin mendapat pujian dari manusia atau karena riya’ bukan diniatkan karena Allah semata maka hal tersebut tidak akan dinilai ibadah.
“Dan tidaklah mereka itu diperintahkan kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas kepadanya dalam agama yang lurus.”(QS. Al-Bayinnah:5)
Kedudukan niat ibadah itu terletak dalam hati seseorang sehingga Allah yang mengetahui. Dan kualitas seseorang dalam beribadah itu sangat tergantung pada kualitas imannya. Oleh karena itu, orang-orang kafir tidak dinilai amal perbuatannya disisi Allah karena orang-orang kafir tersebut tidak beriman kepada ayat-ayat Allah. Sebagaimana firman Allah ;
“Katakanlah, Apakah akan kami beritahukan kepadmu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia itu. Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah. Dan perjumpaan dengan-Nya, maka hapuslah amal-amalannya, dan kami tidak akan melakukan penilaian terhadap amalan mereka terhadap hari kiamat.”(QS. Al-Kahfi :103-105).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar